SULFUR INTOLERANCE

Artikel ini diterjemahkan berdasarkan artikel di https://www.drlaurendeville.com/ARTICLES/SULFUR-INTOLERANCE/

Pengetahuan Dasar
Protein terbuat dari asam amino. 2 dari asam amino tersebut mengandung sulfur dalam strukturnya: methionine dan cysteine. Cystein mempunyai grup thiol – senyawa sulfur yang terikat dengan atom hidrogen (nama kimianya Sulfhydril)

Kenapa Sulfur itu Penting
Dari segi nutrisi, sulfur itu penting untuk fase ke-2 detoksifikasi hati yang memroses molekul beracun sehingga tidak terlalu membahayakan tubuh. Prosesnya adalah sulfation, glucuronidation, dan glutathione-S-transferase. Glutathione adalah antioksidan yang sangat berguna untuk tubuh dan terdiri dari 3 asam amino: cysteine, glutamine, dan glycine.
Kita membutuhkan sulfur dan hal ini tidak bisa dihindari.

Sulfur dan Sensitivitas terhadap Thiol
Beberapa orang tidak bisa tolerasi terhadap sulfur dalam jumlah besar. Reaksi yang terjadi terlihat seperti reaksi histamin termasuk gatal, asma, sakit kepala, mual, capek, kemerahan dan brain fog.
Orang yang sensitif terhadap sulfur (atau sulfites – senyawa sulfur dengan 3 atom oksigen), makanan dan suplemen yang mengandung asam amino dengan kandungan sulfur yang tinggi bisa menyebabkan masalah, terutama makanan yang tinggi kadar thiol-nya.

Kenapa bisa Sensitif terhadap Sulfur
Kemungkinan besar karena mutasi genetic di enzim CBS (Cystathionine beta-synthase) yang homozygous dan heavy metal toxicity.
Enzim CBS menyebabkan daur ulang komponen yang mengandung sulfur untuk dipakai tubuh dan menghasilkan amonia sebagai salah satu sampingannya. Cysteine kemudian digabung menjadi glutathione. Mutasi CBS biasanya memroses lebih cepat sehingga badan kelebihan senyawa sulfur dan juga kelebihan amonia. Kelebihan amonia di badan menyebabkan pikiran kacau, kelelahan, lemah, tidak ada napsu makan, mual, dan sakit di punggung atau perut. Orang-orang tersebut mempunyai kelebihan sulfur di badan sehingga tambahan suplemen atau makanan dengan kandungan sulfur akan menyebabkan kondisi memburuk.
Orang dengan heavy metal toxicity bisa bereaksi dengan makanan mengandung sulfur karena logam berat dan sulfites mempunyai interaksi kuat. Komponen dengan sulfur bisa menggerakkan logam berat. Orang yang pernah melakukan heavy metal chelation akan mengerti bahwa mengeluarkan logam dari jaringan di badan sangatlah tidak enak.

Mengetes Sensitivitas terhadap Sulfur
Tes asam organik urinary yang bisa mengindikasi sulfates yang tinggi, amonia, orotate, citrate, isocitrate, atau vitamin B6 (pyridoxine).
Jika angka sulfates diatas 800, ini adalah indikasi sensitivitas terhadap sulfur. Selain itu, angka taurine yang tinggi atau homocysteine yang rendah (di bawah 6) juga menunjukkan indikasi sensitivitas terhadap sulfur.
Untuk mengetahui mutasi CBS, bisa melakukan test genetik.

Mengatasi Sulfur Sensitivity
Hindari terlebih dahulu makanan atau suplemen yang mengandung sulfur yang tinggi.
Gunakan mineral molybdenum – kofaktor dari enzim sulfite oxidase – untuk menghilangkan sulfur dari badan.
Sayur-sayuran warna hijau gelap seperti bayam, kubis, chard dan collards mengandung klorofil bisa menetralisir kelebihan amonia. Bisa juga suplemen dengan klorofil cair.
Jika ada kandungan logam berat di badan, detoks perlahan akan membantu reaksi sensitivitas ini.

XOXO
Deny Sentosa
(Crown Diamond Leader #1415910)
Whatsapp (+62-821-7734-4515) disini 
email: deny.sentosa@gmail.com

Sudah tidak sabar ingin pakai? Silakan klik disini

Masih ingin tanya-tanya bisa whatsapp saya atau DM saya di instagram . Grup kita adalah komunitas terdiri dari kumpulan orang yang peduli dengan kelangsungan alam, bahan yang tidak merusak ecosystem serta badan, kualitas kesehatan anak dan keluarga, dan pengembangan diri. Gabung dengan kita dalam perjalanan ini. 

Have more questions?

0 Comments

Leave a Comment